Ekonomi Digital Sudah di Depan Mata, Tapi Indonesia masih kekurangan SDM

ekonomi digital asuransi simasnet

Google dan Temasek telah memprediksi nilai valuasi ekonomi digial di Asia Tenggara di tahun 2025 akan mencapai hingga 240 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.448 triliun. Tapi masih ada beberapa persoalan yang masih menjadi masalah bagi pemerintah. Dan juga para pelaku ekonomi digital di negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Yaitu masalah sumber daya manusia yang belum memadai dan masih rendahnya tingkat transaksi digital (digital payment).

Menurut Google, pada tahun 2017, sumber daya profesional yang dinilai cukup cakap dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara menjadi tantangan yang sangat besar dan belum dapat terpecahkan. Bahkan beberapa perusahaan digital cukup bersusah payah untuk bisa merekrut pekerja yang memiliki kompetisi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan ekonomi digital.

Ekonomi Digital di Indonesia

Ekonomi Digital di Indonesia diprediksi akan bernilai Rp 1.400 Triliun. Dan sumber daya manusia yang dibutuhkan tak hanya ahli yang berurusan langsung dengan teknologi digital seperti progammer (developer, ahli koding dan teknisi). Namun juga ride hailing. Google memperkirakan akan ada setidaknya 100.000 pekerja ahli profesional di perusahaan ekonomi digital di Asia Tenggara dalam empat sektor utama, yaitu e-commerce, online media, online travel, dan ride hailing.

Transaksi cashless juga dinilai belum maksimal. Dari survey yang dilakukan oleh Google, hanya kurang dari satu dari dua pengguna internet di Asia Tenggara yang menggunakan layanan transaksi digital. Dan negara Filipina serta Vietnam menjadi dua negara terendah dari enam negara Asia Tenggara lain yang mengadopsi transaksi digital. Sedangkan Singapura mejadi negara dengan penggunaan digital payment tertinggi di Asia Tenggara dengan persentase 52 persen. Indonesia menempati urutan kedua dengan 46 persen dan Malaysia diurutan ketiga dengan 45 persen. Serta Thailand 39 persen di urutan keempat.

Masyarakat memang sudah mulai mengerti dalam melakukan transaksi secara cashless. Namun untuk transaksi di merchant atau secara offline, mereka lebih sering menggunakan uang tunai. Rendahnya tingkat transaksi digital menyebabkan pertumbuhan ekonomi digital menjadi berjalan lambat. Sebagian perusahaan sudah mulai menjalin kerja sama dengan beberapa FinTech, bank atau membuat platform sendiri seperti Go-Pay besutan Go-Jek.

Agar dapat berkembang secara maksimal harus ada kerja sama untuk bisa mau berjalan bersama-sama ke era digital ini. Google dan Temasek mencatat, bahwa pengiriman logistik e-commerce saat ini bertumbuh dengan pesat. Tahun 2015 hanya tercatat sekitar 800.000 pengiriman per hari. Dan kini di tahun 2018 angkanya tumbuh sudah mencapai tiga juta pengiriman per hari.

source : “Tantangan Ekonomi Digital Indonesia, Minim SDM dan Transaksi Cashless”
Penulis : Wahyunanda Kusuma Pertiwi
Editor : Oik Yusuf

30-11-2018  00:00:40

Tags: